Strategy of Preeminence

Sedikit catatan kecil dalam perjalanan. Beberapa waktu terakhir ini saya kembali menekuni dunia consulting. Khususnya di bidang organization development. Ya seperti biasa, calon klien yang akan menghire saya biasanya mengalami kesulitan untuk mencapai targetnya.

Saya teringat satu bagian tulisan Jay Abraham tentang mengapa ada bisnis yang sukses tapi banyak juga yang tidak. Apakah sebagian bisnis itu lebih hebat dari yang lain?

Bisnis yang sukses umumnya memiliki filosofi strategi yang lebih baik. Mereka yang mampu menemukan strategi itu biasanya akan memetik hasil bisnis yang berlimpah dan pertumbuhan yang baik. Sebaliknya kompetitor meraka yang tidak memahami strategi itu akan tertatih-tatih mengejar atau bahkan harus berjuang keras sekedar untuk bertahan.

Salah satunya adalah strategi fokus pada “Anda/klien“ bukannya “aku/kami/internal”. Strategi ini sering disebut strategy of preeminance.

Perubahan fokus ini bisa mengubah semua hal dalam aspek bisnisnya.  Dengan perubahan yang simple itu, organisasi bisnis akan fokus pada kepentingan klien setiap saat. Catat: setiap saat. Artinya mindset ini ada di dalam fikiran, hati, dan tindakan semua lini organisasi. Bukan sekedar di ucapan saja.

Fokus pada kepentingan klien artinya kita mengedepankan kepentingan mereka lebih dulu dibanding kepentingan kita. Sepertinya ini kebalik ya. Tidak! Banyak cerita dan sejarah bisnis yang membuktikan kalau justru strategi inilah yang paling jitu untuk mencapai kesuksesan secara alami.

Dengan menerapkan prinsip ini kadang kita memilih mendapatkan penjualan atau yang lebih rendah demi mengedepankan kepentingan klien. Tapi, strategy of preeminance inilah yang membuat orang-orang antusias melakukan bisnis dengan kita. Bukan dengan kompetitor kita.

Karena dengan mindset strategi ini kita tahu apa yang dibutuhkan klien, bagaimana harapan meraka dan bagaimana mereka akan bersikap. Saat bisa menerapkan strategi ini, kita akan lebih mendapatkan hubungan yang hangat. Bukan sekedar hubungan uang, sales, profit, atau kepentingan internal lainnya.

Tapi yakinlah, dengan konsisten menerapkan strategi ini justru banyak masalah internal kita akan terselesaikan, terutama soal sales dan profit. Siapa sih yang mau tidak mau berbisnis dengan orang yang hangat, perhatian, melindungi kepentingan kita. Dan sebaliknya siapa sih yang mau terus berbisnis dengan orang yang egois, dingin, atau mementingkan urusannya sendiri.

Memang tidak mudah menjalankan strategi ini sepenuh hati. Akan banyak godaan untuk kembali fokus pada masalah internal kita. BTW, mengapa saya menggunakan istilah klien bukan customer? Ah…kita bahas di catatan perjalanan berikutnya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *