Attitude Is Everything

Attitude Is Everything

Ada buku tua yang tersimpan rapi di rak buku saya. Libur panjang tahun ini saya punya kesempatan merapikan buku-buku dan gak sengaja buku ini terbuka. Attitude is Everything judulnya. 

Di tulis Keith Harrel di tahun 1982, dan buku saya adalah edisi revisi tahun 2005. Jadi sudah 14 tahun usia buku saya ini.

Saya ingat momen saat membeli buku ini. Waktu itu saya ingin mencari suatu fondasi yang penting untuk mencapai sukses. Saya akan memberikan satu training pengembangan diri untuk satu grup manajer muda di klien saya. Jadilah buku ini saya beli akhirnya.

Mengapa buku ini penting? Inti dari buku ini adalah memberikan kesadaran kepada kita bahwa kemampuan mengamati, mengendalikan, dan mendapatkan satu attitude positif adalah kunci untuk mengembangkan diri sendiri. Bahkan, satu harta yang paling berharga adalah sikap positif kita dalam hidup.

Dalam perjalanan hidup saya sebagai pribadi, profesional, entrepreneur, dan pengajar juga menunjukkan bahwa sikap positif sangat penting. Terutama bagaimana membangun sikap positif itu dan tetap konsisten dengan sikap itu.

Sebagai manusia sulit bagi kita mengubah banyak hal yang sudah ditakdirkan, seperti tinggi badan atau kekuatan fisik. Tapi kita selalu bisa mengubah sikap kita. Dari yang negatif menjadi yang positif. Dan sikap bukanlah sesuatu yang genetik yang tidak bisa diubah. 

Attitude bisa diubah dan diperbaiki. Bahkan kalau pun sekarang kita punya banyak sikap buruk, semua itu bisa kita ubah. Kita punya kekuatan untuk memilih sikap yang akan membawa kita pada sukses.

THE POWER OF ATTITUDE

Sikap yang kita membawa perbedaan yang sangat besar dalam hidup kita. Sikap itu bisa membawa energi positif yang mendorong kita berprestasi dan sukses. Atau sikap itu membawa racun yang merusak semua dalam hidup kita. 

Untuk bisa membangkitkan sikap positif yang akan menolong mencapai hidup yang terbaik, kita harus menyadari bahwa pusat pengendalian sikap itu ada dalam hati. Sikap kita sejatinya adalah refleksi dari apa yang ada di dalam hati kita.

Dan untuk mendapatkan hati yang bisa memancarkan apa yang terbaik, maka setiap gerbang masuknya sesuatu ke hati harus kita jaga. 

Apa saja gerbang itu? Telinga, mata, dan mulut adalah gerbang hati, untuk masuk maupun keluar.

“Out of the issues of your heart , your mouth speaks.” 

Kata-kata kita sangat berpengaruh terhadap sikap kita dan sikap orang-orang di sekitar kita.

Adjust your attitude and change your life.

Our attitudes affect everything we do. Setiap saat menghadapi masa sulit, tetaplah fokus untuk menjadi positif. Ingat, bahwa setiap masalah atau kesulitan yang sekarang kita hadapi bisa jadi adalah tangga untuk kesempatan yang lebih besar di masa depan.

Orang yang optimis (orang dengan sikap mental positif) umumnya lebih sukses dari orang-orang yang pesimis. Walaupu masing-masing punya bakat yang sama. 

Di dunia penjualan, orang-torang yang optimis ternyata mampu menjual lebih banyak daripada orang yang pesimis. Orang yang optimis memandang setiap penolakan sebagai suatu kesempatan untuk mengevaluasi, dirinya, produk, atau teknik menjualnya. Sementara orang yang pesimis menanggapi penolakan secara pribadi. Mereka menyalahkan dirinya, teman kerjanya, perusahaannya, atau produknya.

Berbagai riset juga menunjukkan bahwa orang-orang yang optimis memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik.

Your Attitude Reflects You

Walau setiap orang punya sikap, tidak semua orang punya tipe sikap yang sama. Ada orang yang punya ciri khas pada sikap mereka. 

Ada orang yang membawa aura negatif pada sekililingnya. Membawa masalah, membawa pesimisme. Tapi ada juga orang yang selalu membawa keriangan, menumbuhkan semangat, dan mendorong lingkungannya selalu positif.

Menghadapi attitude negatif di tempat kerja atau di lingkungan bisnis jadi tantangan setiap manajer dan pemimpin sekarang. 

Orang dengan attitude positif bisa mempengaruhi lingkungannya sama dengan orang yang attittudenya positif. Bedanya adalah pada hasilnya.

Orang dengan attitude positif mendorong kerja sama dan komunikasi yang lebih baik. Mereka juga menaikkan moralitas dan kinerja organisasi. 

Sebaliknya orang dengan attitude negatif merusak komunikasi, melemahkan kerja sama, dan menurunkan kinerja.

Attitude di Rumah

Bagaimana dengan sikap kita di rumah? Banyak ayah dan ibu yang merasa berhak tidak menjaga sikapnya di rumah karena sudah terpaksa menjaga sikap di kantor atau di bisnisnya.  

Bayangkan seorang ibu yang pulang kerja dan merasa sudah lelah tersenyum. Atau seorang ayah yang sudah menghadapi berbagai problem di kantornya?

Sikap yang positif justru yang paling penting kita perhatikan saat di rumah. Sebagai pasangan atau sebagai orang tua kita harus sekuat tenaga membangun suasana positif pada keluarga kita di rumah.

Kalau ibu atau ayah membawa attitude negatif sepanjang hari, kemungkinan besar anaknya di rumah akan menyalahkan diri mereka sendiri dan mengcopy sikap yang sama dalam hidupnya.

Attitude in Action

Memperbaiki sikap kita tidaklah berarti mengubah diri kita 180 derajat. Karena tidak ada orang yang 100% negatif, seperti juga tidak ada orang yang 100% positif. Orang yang sangat optimis pun punya masa-masa yang suram. Sebaliknya, orang yang sangat negatif pun punya hari-hari yang cerah.

1. Focus on handling stress

The less stress you fell, the more energy you’ll have to exercise those positive-thinking muscle.

Menghilangkan stres 100% dari hidup kita tidaklah mungkin. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga agar energi positif lebih dominan. Carilah aktivitas yang membuat suasana hati menjadi positif, seperti membaca, olahraga, bermain dengan anak, bertemu dengan komunitas, menjalankan aktivitas keagamaan dan lainnya. Mencari komunitas yang memberi support juga sangat efektif.

2. Identify your negatif/pessimistic thoughts

Banyak pikiran dan aura negatif yang akan mendatangi kita. “Saya tidak akan bisa menyelesaikannya proyek ini.” “Aku gak layak tampil..” Dan banyak lagi pikiran-pikiran negatif yang bisa menyerang kita.

Di saat itulah kita perlu menghadapinya dengan perspektif yang positif. Pikiran negatif: “Saya tidak akan bisa menyelesaikannya proyek ini.” Katakan dalam hati: “Waktu memang terbatas, saya perlu meminta bantuan Andi.” Pikiran negatif:  “Mereka meminta syarat 5 tahun pengalaman, saya hanya punya 3 tahun.” Katakan dalam hati: “Saya punya keahlian spesial untuk komputer dan keuangan.”

Jangan biarkan pikiran negatif menang. Semakin kita melawan pikiran negatif dengan pikiran yang logis semakin kuat suasana positif yang didapat. 

3. Tell a supportive person how you feel

Sampaikan kepada orang yang terpercaya masalah dan perasaan yang dihadapi. Dukungan dan bantuan sangat penting untuk menumbuhkan rasa positif dalam diri kita.

4. Act to settle a problem

Lakukan tindakan untuk menyelesaikan masalah. Bila ada rekan kerja atau teman yang tidak sependapat atau berselisih, ajaklah bicara dan sampaikan pendapatmu. Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman katakan kepada mereka.

ATTITUDE IS A CHOICE

Kita selalu punya pilihan dalam bersikap. Apakah kita mengikuti suasana hati negatif dan mendorong kita pada sikap negatif. Atau kita mencoba mencari perspektif lain dan mengarahkan sikap kita menjadi positif. 

Saat pesawat kita ditunda keberangkatannya karena kerusakan mesin kita bisa menyikapi dengan kecewa dan marah kareana akan terlambat ke lokasi yang kita tuju. Atau kita sikapi dengan syukur karena kita lebih selamat tidak naik ke pesawat yang mesinnya rusak.

Saat kita memilih sikap negatif kita mungkin menghabiskan waktu menunggu keberangkatan dengan umpatan atau sikap marah-marah. Sebaliknya dengan sikap yang positif kita bisa menghabiskan waktu dengan membaca, membeli makanan di kantin, atau menelpon keluarga.

Apa yang akan kita pilih: sikap positif atau negatif? Sepertinya mudah ya? Masalahnya kita seringkali lupa kalau kita bisa memilih. 

Kesadaran bahwa kita bisa memilih bagaimana bersikap adalah kunci penting mencapai sukses. Kita harus belajar bagaimana bersikap dengan penuh pertimbangan karena itulah yang akan membantu menghadapai banyak tantangan dalam hidup kita.

Bahagia: Kitalah Yang Membuatnya.

Kita semua ingin bahagia. Walaupun seringkali kita menetapkan banyak kriteria untuk bahagia. Dan saat kriteria itu tidak terpenuhi kita tidak bahagia. Dan lebih parah kalau sikap kitapun menjadi negatif dalam hidup kita. 

Coba ajukan pertanyaan ini kepada dirimu sendiri, apa sih yang membuatmu bahagia?

  • Apakah kamu menjadi bahagia tiap menit atau tiap hari?
  • Apakah semua orang harus melakukan apa yang kamu ingin mereka lakukan?
  • Apakah semua hal dalam karirmu harus tercapai setiap saat?
  • Apakah kamu harus menghasilkan uang lebih banyak dari semua orang?
  • Apakah kamu harus punya jabatan lebih dari semua orang?
  • Apakah kamu harus dihargai dan diakui semua orang atas apa yang kamu lakukan?
  • Apakah kamu harus harus disukai semua orang?

Sikap-sikap itu bisa merusak hubungan. Kita pasti banyak menyaksikan banyak hubungan rusak karena salah satu pihak menuntut terlalu berlebihan dari yang lain.

Tidak semua orang sempurna, rapi, cantik, menawan, perhatian, atau sifat-sifat sempurna lainnya. Kita sering menuntut berlebihan pada orang tua, teman, pasangan, anak, rekan bisnis, bawahan, atau atasan. Akan mudah jadi bahagia kalau kita bisa menemukan kebahagiaan pada hal-hal kecil.

Build Your Attitude from the Inside Out

For true happiness, it’s best to look within yourseld rather than rely on the world around you. The sad but true fact is that it’s difficult to be happy if you rely in outside sources. The root of happiness is joy, and joy lives within you. It’s not  influenced by exernal events.

Setiap hari kita bisa memilih. Memilih untuk dalam good mood atau dalam bad mood. Setiap sesuatu terjadi, kita bisa memilih menjadi korban atau memilih untuk belajar darinya.

Hidup adalah soal pilihan. Kita memilih bagaimana bereaksi pada suatu keadaan. Kita memilih bagaimana orang mempengaruhi kita. Kita memilih dalam mood yang baik atau mood yang buruk. Intinya kita bisa memilih bagaimana hidup yang kita jalani.

Kualitas hidup kita ditentukan bagaimana kita memilih. Jalur karir yang kita tekuni, rekan kerja, gaya hidup, dan semua hal dalam hidup kita.

Yang Terpenting adalah Internal Message

Untuk menjadi orang yang optimis kita harus belajar bagaimana untuk berbicara pada diri sendiri saat menghadapi masalah. Kebanyakan orang membiarkan otak mereka diprogram oleh apa yang mereka lihat dan dengar tanpa filter. 

Kalau komputer mengenal garbage in garbage out, kalau yang masuk data jelek maka yang keluar juga akan jelek. Tapi untuk otak kita berlaku, garbage in, garbage stay. Kalau yang masuk jelek, maka kejelekan itu bisa tinggal di pikiran mereka.

Otak kita menerima menyimpan dan memproses hal negatif sama dengan hal yang positif dan menganggapnya sebagai kebenaran. Dan kebanyakan kita bersikap berdasarkan program yang telah ditanamkan sejak kita masih di usia muda. Padahal bisa jadi apa yang kita terima saat itu salah atau tidak akurat.

Perhatikan bibit bunga matahari. Saat bibit itu ditanam, tumbuh dan dipelihara, maka saat besar dia akan menjadi bunga matahari. Tidak bisa menjadi bunga yang lain. Karena benih itu sudah diprogram untuk menjadi bunga matahari.  

Begitu juga dengan pikiran kita. Mungkin ada yang memprogram pikiran kita dengan mengatakan kita tidak cukup pintar, tidak berbakat, tidak punya tampang yang cukup, dan semua program-program negatif lainnya. Dan kita pun percaya pada program yang ditanamkan pada pikiran kita. 

Tidak seperti benih bunga matahari, kita bisa mengubah program yang ditanamkan pada kita. Kita bisa mengubah menjadi apa kita di masa depan dengan mengubah program di dalam pikiran kita.

Kebanyakan orang percaya bahwa sikap mereka dan tindakan mereka dipengaruhi oleh orang lain. Sebenarnya, dialog internal dalam hati mereka lah yang paling berpengaruh. Kata-kata yang kita ucapkan pada diri kita sendirilah yang paling memberi dampak besar bagaimana kita membawa diri kita di dunia ini.

Buang Sikap Burukmu

Dengan self awareness identifikasi sikap buruk yang menghalangimu untuk maju

Tidaklah mudah untuk mengetahui mengapa seseorang punya sikap buruk. Tapi sangat mudah untuk menemukan mereka ditengah ramainya orang. Tentu saja kecuali kalau yang punya sikap buruk itu diri kita sendiri.

Apa tanda sikap kita belum tepat dengan yang seharusnya kita punya adalah kita mengalami hal-hal berikut ini. Kita belum mendapatkan apa yang kita inginkan dalam hidup, kita merasa buntu, tidak dianggap, tidak dihargai, atau tidak mencapai harapan kita. Bila itu terjadi kemungkinan kita sedang membawa sikap yang menghalangi kita untuk maju.

“People are always blaming their circumstances for what they are. The people who get on in this world are the people who get up and look for circumstances they want and if, they can’t find thme, make them.” George Bernard Shaw.

Punya Sikap Yang Baik Selalu Harus Di Awali Dengan Kemampuan Self-Awareness

Kemampuan mengenali bagaimana perasaan kita saat dia mendatangi kita dikenal juga dengan self-awareness. Dan kemampuan ini sangat penting untuk pengembangan diri kita di dunia yang semakin kompleks, mobile, dan terus berubah ini. Self-awareness membantu kita untuk menyadari dan waspada terhadap emosi dan sikap kita.

Kalau kita tahu apa yang mentriger munculnya emosi dan sikap negatif kita bisa segera mengalahkan triger itu atau bahkan kita bisa menggantinya dengan yang lebih positif dan konstruktif. Akhirnya kita bisa mendapatkan sikap yang lebih positif.

Self awarenenss sangat penting. Misalnya, saat hendak tidur kita bisa mengatakan pada diri sendiri “Tidak seharusnya saya berpikir ini sebelum tidur. Saat kita melakukan self awareness kita memiliki kontrol yang lebih besar terhadap tindakan kita.

Pengendalian ini memberikan kita pilihan apakah akan bersikap negatif atau tidak. Bahkan kita akan mampu mengembangkan attitude positif yang memungkinkan kita membuang emosi negatif yang muncul. Kita juga akan mampu menyalurkan energi emosi yang negatif itu menjadi action yang positif.

Kalau kita tidak punya kemampuan itu, sikap yang negatif itu akan merusak  banyak hal dalam hidup kita. Atau mungkin kondisi itu sudah terjadi sebagian? Apa tandanya? Apakah kita mudah marah? Tidak sabaran, gelisah, bersikap sinis pada sesuatu tanpa sebab yang kita ketahui.

Apakah orang mengatakan kita terlalu berlebihan menyikapi sesuatu? Apakah kita sering merasa sering cepat emosi? Sering tersinggung? 

Itu tanda-tanda kita perlu lebih melatih self awareness.

3 Tipe Bad Attitude Yang Membebani Diri Kita

1. Beban: Kalau Saja…

Jenis beban sikap buruk yang sering dibawa orang adalah sikap “kalau sja…” Beban ini berasal dari sesuatu yang terjadi di masa lalu. Mungkin sesuatu yang belum tuntas “unfinished business”. Rencana yang gagal, hati yang tersakiti. Semua itu jadi sangat berat untuk dibawa dalam hati.

Apa saja beban yang termasuk dalam jenis ini?

  1. Seharusnya aku pikir dulu sebelum ngomong itu…
  2. Seandainya aku tidak melakukan itu…
  3. Seandainya aku tetap sekolah…
  4. Seandainya aku dengar kata ibu dulu…
  5. Seharusnya aku lebih hati-hati waktu itu…
  6. Seandainya aku bisa lebih sering dengan anak-anak…
  7. Seharusnya aku diam saja waktu itu…
  8. Seandainya aku lebih mempertahankan hubungan kami…
  9. Seandainya aku tidak memilih dia…

2. Beban: “terus bagaimana…”

Beban emosi ini muncul karena tekanan dari saat ini. Berat beban ini muncul karena stress dan ekspektasi yang berlebihan. Biasanya beban ini muncul dalam satu paket, sisi baik dan sisi negatif. Tapi orang yang punya beban ini lebih memilih respon negatif daripada yang positif.

  1. Perusahaan akan direstrukturisasi, akan ada pengurangan pegawai, terus bagaimana…
  2. Anakku baru saja lahir, terus bagaimana nanti…
  3. Deadline dua tugas ini bersamaan, terus bagaimana …
  4. Menghadapai beban negatif ini adalah fokus pada opportunity dan solusi daripada dampak negatif dan masalah itu sendiri.

3. Beban: Bagaimana kalau…

Beban ini biasanya terkait dengan kekhawatiran tentang suatu kondisi di masa yang akan datang. Ini timbul karena kita terlalu banyak memikirkan potensi problem yang akan datang dibanding kesempatan yang bisa diambil.

  1. Bagaimana kalau saya di PHK?
  2. Bagaimana kalau saya jatuh sakit nanti?
  3. Bagaimana kalau modal saya habis?
  4. Bagaimana kalau sahamku anjlok?
  5. Bagaimana kalau pemanasan global memusnahkan kita?

Tidak salah merencakan masa depan. Dan kita bisa menggunakan setiap pertanyaan what-if untuk membuat rencana dan respons untuk setiap keadaan. Hanya saja ada perbedaan antara fokus pada solusi untuk maslah ini atau hanya pada masalahnya saja. 

Kalau kita hanya fokus pada masalah maka kita akan menjadi lumpuh. Kalau kita mencari solusi artinya kita bertanggung jawab dan mengambil kendali atas hidup kita.