resolusi2016

Resolusi Tahun 2016: Meneguhkannya atau mengabaikannya?

Bagaimana membangun kebiasaan baru dan tetap konsisten pada tujuan.

Apa kabar sahabatku semua? Masih konsisten dengan resolusimu di awal tahun ini?

Tidak terasa tahun 2016 sudah 3 minggu kita lewati. Apa yang kita sebut sebagai tahun baru, semakin lama menjauh dari kita. Begitu bukan? Dan tahun 2016 secara resmi atau tidak resmi sudah tidak bisa kita sebut sebagai tahun baru lagi. Minggu depan kita sudah memasuki bulan ke dua dari tahun 2016.

Banyak orang memulai setiap tahun barunya dengan resolusi. Ada yang membuat resolusi untuk dirinya sendiri, seperti ingin hidup lebih sehat, ingin menjadi orang yang lebih rajin dan seterusnya. Ada yang membuat resolusi untuk kehidupan keluarga, ingin menjadi ayah atau ibu yang lebih baik, ingin menjadi pasangan yang lebih baik dan banyak ragam resolusi lainnya. Begitu juga untuk kehidupan bisnisnya, seperti ingin menjadi orang yang lebih proaktif, orang yang lebih dinamis, menjadi karyawan yang lebih rajin, atau menjadi bos yang lebih simpatik.

Apakah resolusi Anda termasuk dari salah satu daftar di atas? Apakah ada yang yang pernah mengalaminya? Atau berasa itu “Gue banget…!”

Masalahnya adalah… dalam perjalanannya…resolusi itu perlahan pudar dan akhirnya hilang ditelan rutinitas dan kebiasaan lamanya. Dan akhirnya, seolah-olah resolusi itu tidak pernah dibuat. Drama resolusi itu terulang dari tahun-tahun sebelumnya ke tahun 2015 yang lalu. Bagaiamana dengan resolusi tahun yang sekarang, apakah Anda akan membiarkan berlalu juga?

Heidi Grant penulis buku 9 things successful people do differently dalam sebuah kelas training menjelaskan bahwa gagalnya kita mencapai resolusi tahunan adalah karena kita tidak memahami bagaiman strategi dan teknik membentuk kebiasaan baru. Pada dasarnya, membentuk resolusi tentunya adalah membentuk kebiasaan baru. Untuk itu, kita perlu memahami cara otak dan tubuh kita untuk membentuk kebiasaan baru tersebut.

Ada lima tahap sederhana yang dapat kita contoh untuk menyesuaikan cara kerja otak dan tubuh kita dalam mencapai resolusi kita.

Pembahasan tentang bagaimana cara membentuk kebiasaan baru yang baik untuk pengembangan diri saya rekam sebuah sesi podcast. Bila kita menerapkan strategi dan teknik-teknik yang tepat maka apapun resolusi di tahun 2016 ini akan sangat mungkin untuk dicapai.

Untuk mendengarkan atau mendownload podcast tersebut lewat iTunes dapat dilakukan melalui link berikut ini.

https://itunes.apple.com/id/podcast/10-resolusi-2016/id1078170771?i=361543089&mt=2

 

Untuk mendengarkan atau mendownload podcast tersebut lewat Android atau website dilakukan melalui link berikut ini.

 

1. Pentingnya membuat key target

Banyaknya target resolusi seringkali justru menjadi penyebab gagalnya kita mencapai target itu. Fokuslah pada apa yang terpenting dari hal penting. Bila kita dapat menemukan key target, maka kita dapat fokus pada 2 atau 3 hal terpenting dalam resolusi kita. Bila kita telah mengusai target tersebut maka kita dapat beralih atau mengejar target selanjutnya.

Fikirkan juga bagaimana tujuan itu dalam tingkat kebiasaan. Karena sebenarnya kita dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan atau habbit. Misalnya, kita menjadi orang yang tidak proaktif di kantor sebenarnya karena kebiasaan kita yang menghindari pembicaraan, diskusi, atau tugas-tugas baru. Kita menjadi perokok karena kebiasaan kita. Kita memiliki kelebihan berat badan karena kebiasaan makan dan minum kita. Intinya adalah kebiasaan atau habbit.

Jadi penetapan resolusi harus diikuti dengan penetapan “Apa habbit yang paling mendasar untuk kita tangani.” Yaitu kebiasaan yang dapat memicu kebiasaan lainnya. Misalnya, bila kita ingin menjadikan bagun lebih pagi sebagai resolusi, maka identifikasilah kebiasaan yang menjadi pendorong kita bangun pagi atau carilah kebiasaan akar masalah kita tidak bangun pagi. Kadang kala, bukan bangun pagi itu sendiri yang menjadi masalah tapi, kebiasaan kita bergadan sampai larut malam untuk nonton TV, bermain game, atau aktivitas yang tidak berguna lainnya.

2. Membuat Target yang Jelas, Spesifik, dan terukur.

Salah satu sebab mengapa resolusi kita sering gagal di capai adalah karena target resolusi itu abstrak dan tidak terukur. Misalnya kita menetapkan target mengurangi berat badan, menjadi orang yang lebih rajin, atau menjadi orang yang lebih proaktif di kantor. Otak kita akan kesulitan mengidentifikasi cara dan membuat keputusan apa yang harus dilakukan untuk mencapai itu.

Bandingkan target “mengurangi berat badan” dengan “mengurangi 5 kg berat badan dalam 3 bulan”. Bandingkan target “menjadi lebih rajin” di banding dengan “hadir di kantor 15 menit sebelum jam 8”, misalnya. Dengan demikian, otak kita akan lebih mudah memahami, mencari cara dan membuat keputusan untuk mencapai target spesifik tersebut dalam aktivitas kita sepanjang hari.

Contoh yang mudah dari bagaimana otak kita bekerja secara autopilot adalah saat kita memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah kita memutuskan untuk pulang ke rumah lalu secara otomatis aktivitas pulang ke rumah terjadi. Walaupun sebenarnya dalam perjalanan kita harus membuat banyak pilihan ke kanan atau ke kiri, lewat jalur tol atau bukan dan seterusnya. Bila satu jalan mengalami gangguan atau di tutup otak kita tahu itu dan segera mencari jalan bagaimana agar kita tetap sampai di rumah. Otak kita secara otomatis bekerja dan membuat berbagai keputusan secara spontan.

Jadi, setelah kita mengidentifikasi fokus dalam key target, maka kita perlu menentukan target perubahan kebiasaan yang spesifik, jelas, dan terukur. Contohnya, bila tahun 2016 ini kita menetapkan ingin mengurangi berat badan, maka kita perlu menentukan target penurunan itu secara spesifik apakah 5 kg, 10 kg, atau ukuran lainnya.

Resolusi untuk menjadi orang yang lebih rajin harus kita buat spesifik menjadi target yang lebih jelas dan terukur. Misalnya kita kemudian menentapkan harus hadir di kantor sebelum jam 8, mengerjakan setiap tugas hingga selesai 1 hari sebelum deadline. Dan seterusnya.

Ini harus kita lakukan untuk memudahkan otak kita berfikir, menemukan alternatif dan membuat keputusan yang mendukung pencapaian kita. Otak kita sebagian besar bekerja secara autopilot. Dalam aktivitas sehari-hari kita memikirkan ratusan kalau tidak ribuan masalah dan membuat keputusan yang sebagian besarnya tidak kita sadari.

 

3. Mencari Habbit Penganti

Langkah ketiga ini adalah merencanakan suatu kebiasaan baru untuk mengganti kebiasaan lama yang buruk. Mengapa? Salah satu cara kerja otak kita juga adalah menerima perintah. Karena itu, perintah yang hanya melarang sulit diterima otak. Misalnya karena target ingin menjadi orang yang lebih rajin kita memerintahkan otak untuk tidak terlambat. Ini akan sulit difahami dan cenderung akan tidak terlaksana. Akan lebih produktif bila kita memberikan perintah pengganti. Seperti harus hadir di kantor jam 7.45.

Kita dapat menggantikan kebiasaan baik dengan membuat kebiasaan yang baik. Bukan sekedar menghentikan kebiasaan yang buruk. Misalnya orang yang ingin berhenti merokok, akan sulit mencapai target berhenti merokok bila hanya ingin menghentikan kebiasaan merokok. Tapi akan lebih mudah dilakukan dengan memulai kebiasaan baru, seperti setiap ingin merokok dia mengambil wudhu dan sholat dua rakaat. Atau setiap ingin merokok dia akan mengambil permen dan mengunyahnya.

 

Menyiapkan Strategi Alternatif

Strategi alternatif adalah suatu rencana pengganti apabila rencana awal untuk mencapai target resolusi kita menyimpang. Sudah kita ketahui bersama bahwa di sepanjang jalan mencapai target resolusi banyak godaan. Dan sebagian besar orang jatuh ke dalam godaan tersebut sehingga akhirnya mengalah untuk tidak mencapai resolusi yang sdh kita tetapkan.

Banyak orang yang, akhirnya tidak mencapai resolusi, mengatakan kurangnya motivasi. Sebenarnya bukan soal motivasi yang menyebabkan Seringnya seseorang gagal mencapai resolusinya bukan karena motivasinya yang kurang. Tapi tidak siapnya kita dengan alternatif lain yang harus

 

Jalankan dengan Konsisten namun Beri Fleksibilitas

Langkah terakhir untuk mendapatkan kebiasaan baru adalah jalankan kebiasaan baru itu dengan konsisten, namun ingat tetap berikan kelonggaran atau fleksibilitas. Salah satu sebab kebanyakan orang gagal mencapai resolusinya adalah karena terlalu kaku dan terlalu keras pada dirinya. Kuncinya tetap berikan fleksibilitas pada diri sendiri. Berilah ruang untuk sekali-kali melanggar atau tidak sesuai target. Namun ingat tetapkan penggantinya atau kompensasinya.